Kelas Tanpa Batas Mandiri

Jurnalisme Bencana - Panduan untuk Jurnalis

Penanganan pascabencana sering luput dari pantauan media. Media lebih menyukai liputan bencana alam yang baru saja terjadi. Sebut saja peristiwa tsunami dan likuifaksi di Palu dan Donggala. Media gencar memberitakan penyebab tsunami dan likuifaksi, dampak kerusakan, proses evakuasi, dan mengeksploitasi kisah para korban. Seiring dengan waktu, pemberitaan akan semakin menyusut. Padahal penanganan pascabencana sedang berlangsung dan butuh pengawasan.

Ada tiga alasan mengapa media perlu memantau pascabencana. Pertama, menyuarakan korban bencana. Media harus berdiri di sisi korban yang sedang memperjuangkan hak untuk hidup normal seperti sediakala. Kedua, media perlu secara kritis mengabarkan proses penanganan rekonstruksi dan rehabilitasi pascabencana, dan kendalanya kepada stakeholders, termasuk pemerintah. Ketiga, sebagai wakil publik, media bertugas mengawasi dana rekonstruksi dan rehabilitasi pascabencana. Dalam banyak kasus, pada fase ini sering terjadi penyelewengan dana yang bersumber dari APBN dan donasi.
Untuk itu,

Tempo Institute bersama Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Palu yang didukung oleh International Media Support (IMS) merancang modul belajar online bagaimana meliput pascabencana.

Pengajar

Ketua Umum Jurnalis Bencana dan Krisis Indonesia

Ahmad Arief

Ketua Umum Jurnalis Bencana dan Krisis Indonesia

Wartawan Senior Tempo

Mardiyah Chamim

Mardiyah Chamim adalah Direktur Eksekutif TEMPO Institute 2009-2019. Bergabung dengan TEMPO sejak 1998. Pada 2011, Mardiyah Chamim terpilih sebagai fellow pada program Senior Journalist Seminar, East West Center, Hawaii, USA. Menulis beberapa buku, antara lain “A Giant Pack of Lies” dan “Sejarah Tumbuh di Kampung Kami”. Mendalami liputan kesehatan, sains dan lingkungan

Direktur Tempo Institute

Qaris Tajudin

Qaris Tajudin adalah Direktur Tempo Institute. Qaris menerbitkan sejumlah buku, seperti Mahasati, Mahameru (keduanya adalah novel), serta Mengarungi Samudera Al-Fatihah. Di Tempo, Qaris memulai sebagai wartawan di rubrik Internasional. Sekembalinya dari meliput perang di Afganistan, dia ditempatkan (lebih banyak) sebagai redaktur di rubrik gaya hidup. Setelah itu, Qaris menangani dua anak usaha Tempo lainnya, yaitu Matair dan kini Tempo Institute.

Trainer-Dart Center

Amantha Perera

Amantha Perera adalah koresponden asing yang berbasis di Kolombo, Sri Lanka. Dia meliput Sri Lanka dan wilayah dengan minat khusus dalam konflik, situasi pasca konflik, bencana kemanusiaan dan perubahan iklim. Dia bekerja sebagai kontributor untuk TIME, Reuters/Alertnet, Inter Press News Service – IPS dan Integrated Regional Information Network – IRIN. Saat ini Amantha Perera sedang melakukan penelitian pasca sarjana tentang ancaman trauma online yang dihadapi oleh jurnalis di CQUniveristy di Melbourne.



Penyedia kelas

Harga

GRATIS

Topik

Jurnalistik

Penyedia kelas

Lokasi

Daring


Sudah Termasuk :


Daftar Kelas

Meliput Paska Bencana

Apa yang akan dipelajari?

Tujuan Pembelajaran

  • Peserta mampu mengomunikasikan akuntabilitas penanganan pascabencana kepada stakeholders secara lebih menarik dan mudah dipahami.

Materi yang dipelajari

  • Memahami liputan pascabencana;
  • akuntabilitas pascabencana;
  • menulis liputan akuntabilitas pascabencana;
  • pengumpulan data peliputan pascabencana.

Sudah Termasuk :

Kelas Tanpa Batas Mandiri

Jurnalisme Bencana - Panduan untuk Jurnalis

Penanganan pascabencana sering luput dari pantauan media. Media lebih menyukai liputan bencana alam yang baru saja terjadi. Sebut saja peristiwa tsunami dan likuifaksi di Palu dan Donggala. Media gencar memberitakan penyebab tsunami dan likuifaksi, dampak kerusakan, proses evakuasi, dan mengeksploitasi kisah para korban. Seiring dengan waktu, pemberitaan akan semakin menyusut. Padahal penanganan pascabencana sedang berlangsung dan butuh pengawasan.

Ada tiga alasan mengapa media perlu memantau pascabencana. Pertama, menyuarakan korban bencana. Media harus berdiri di sisi korban yang sedang memperjuangkan hak untuk hidup normal seperti sediakala. Kedua, media perlu secara kritis mengabarkan proses penanganan rekonstruksi dan rehabilitasi pascabencana, dan kendalanya kepada stakeholders, termasuk pemerintah. Ketiga, sebagai wakil publik, media bertugas mengawasi dana rekonstruksi dan rehabilitasi pascabencana. Dalam banyak kasus, pada fase ini sering terjadi penyelewengan dana yang bersumber dari APBN dan donasi.
Untuk itu,

Tempo Institute bersama Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Palu yang didukung oleh International Media Support (IMS) merancang modul belajar online bagaimana meliput pascabencana.

Pengajar

Ketua Umum Jurnalis Bencana dan Krisis Indonesia

Ahmad Arief

Ketua Umum Jurnalis Bencana dan Krisis Indonesia

Wartawan Senior Tempo

Mardiyah Chamim

Mardiyah Chamim adalah Direktur Eksekutif TEMPO Institute 2009-2019. Bergabung dengan TEMPO sejak 1998. Pada 2011, Mardiyah Chamim terpilih sebagai fellow pada program Senior Journalist Seminar, East West Center, Hawaii, USA. Menulis beberapa buku, antara lain “A Giant Pack of Lies” dan “Sejarah Tumbuh di Kampung Kami”. Mendalami liputan kesehatan, sains dan lingkungan

Direktur Tempo Institute

Qaris Tajudin

Qaris Tajudin adalah Direktur Tempo Institute. Qaris menerbitkan sejumlah buku, seperti Mahasati, Mahameru (keduanya adalah novel), serta Mengarungi Samudera Al-Fatihah. Di Tempo, Qaris memulai sebagai wartawan di rubrik Internasional. Sekembalinya dari meliput perang di Afganistan, dia ditempatkan (lebih banyak) sebagai redaktur di rubrik gaya hidup. Setelah itu, Qaris menangani dua anak usaha Tempo lainnya, yaitu Matair dan kini Tempo Institute.

Trainer-Dart Center

Amantha Perera

Amantha Perera adalah koresponden asing yang berbasis di Kolombo, Sri Lanka. Dia meliput Sri Lanka dan wilayah dengan minat khusus dalam konflik, situasi pasca konflik, bencana kemanusiaan dan perubahan iklim. Dia bekerja sebagai kontributor untuk TIME, Reuters/Alertnet, Inter Press News Service – IPS dan Integrated Regional Information Network – IRIN. Saat ini Amantha Perera sedang melakukan penelitian pasca sarjana tentang ancaman trauma online yang dihadapi oleh jurnalis di CQUniveristy di Melbourne.



Apa yang akan dipelajari?

Tujuan Pembelajaran

  • Peserta mampu mengomunikasikan akuntabilitas penanganan pascabencana kepada stakeholders secara lebih menarik dan mudah dipahami.

Materi yang dipelajari

  • Memahami liputan pascabencana;
  • akuntabilitas pascabencana;
  • menulis liputan akuntabilitas pascabencana;
  • pengumpulan data peliputan pascabencana.

Kelas lainnya